untuk masyarakat Aceh
Ditulis oleh asramdlan di/pada Oktober 5, 2007
kebetulan saya pernah mendapat tugas bekerja di provinsi NAD selama sekitar 6 bulan pasca tsunami. ketika terjadi bencana itu, sebetulnya setengah tidak percaya karena begitu melekat di pikiran saya Aceh sebagai serambi Makkah diterpa tsunami yang demikian dahsyat ibarat sebuah azab/siksa buat kaum durhaka di zaman nabi-nabi dahulu! (dalam pikiran saya, Tuhan seharusnya menghukum daerah lain yang kehidupannya memang sudah bobrok, Jakarta misalnya….
)
tapi pikiran itu berangsur-angsur saya singkirkan terutama setelah saya mengalami sendiri hidup di provinsi NAD. mungkin pendapat saya ini subjektif, tapi saya rasa masih dapat diterima karena hal-hal yang akan saya ungkapkan juga tidak memiliki nilai pasti alias tingkat relativitasnya sangat tinggi.
saat ini saya menyikapi bahwa bencana tsunami wajar Tuhan takdirkan terjadi di Aceh, karena beberapa hal (relatif ) berikut ini:
- sudah terlalu banyak perbuatan dosa terjadi di sana. apakah di tempat lain tidak banyak perbuatan dosa? saya kira banyak, bahkan mungkin ada tempat lain yang perbuatan dosanya lebih banyak, tetapi khusus untuk Aceh yang serambi Makkah, dosa sebanyak itu tak dapat ditolelir sehingga pantas diberi peringatan (mudah-mudahan bukan azab).
- muslim di Aceh banyak yang melupakan aturan Islam padahal di sana bisa dikatakan kehidupannya identik dengan Islam (terbukti sekarang di sana diberlakukan syariat Islam). hal kedua ini sebetulnya identik dengan hal pertama di atas, tetapi tetap saya sebutkan karena saya ingin menegaskan bahwa seharusnya kehidupan di Aceh tegak atas dasar (aturan) Islam, bahkan sejak sebelum syariat Islam resmi dilaksanakan sekalipun, mengingat Aceh sebagai serambi Makkah…
anda pasti bertanya: apa dasarnya sehingga saya berani menyatakan bahwa di sana banyak perbuatan dosa dan syariat Islam dilupakan? jawabnya adalah fakta-fakta berikut ini:
- ada bakal calon gubernur yang mundur gara-gara tidak bisa membaca Al Quran!
- pemahaman atas ilmu dalam Islam cukup mendalam, tapi prakteknya banyak dilupakan. contoh: Islam mengajarkan ketertiban, tetapi kenyataannya orang Aceh banyak yang tidak bisa tertib (lampu persimpangan di jalan raya banyak dilanggar, tidak mau antri, parkir sembarangan tanpa peduli meskipun mengganggu orang lain).
- perempuan-perempuan muslim Aceh banyak yang tidak sadar akan kewajibannya menutup aurat dengan benar, alias tidak pakai jilbab. kalaupun sekarang banyak yang memakai jilbab (itu juga memakainya asal nempel saja), lebih karena takut ditangkap/diperingati WH (wilayatul hisbah/polisi syariat). kondisi seperti itu untuk Aceh tentu saja tidak dapat diterima sebagai sesuatu kewajaran…
- banyak orang yang dizholimi karena pelayanan yang lamban pada setiap layanan publik, baik formal maupun non formal (kawan saya pernah tidak jadi makan di satu rumah makan gara-gara pelayannya mengatakan bahwa pesanannya tidak ada, tetapi kabar itu baru diberitahukan setelah menunggu sekitar 45 menit bersamaan dengan pelayan itu mengantar pesanan yang ada…)
- kebiasaan sebagian besar orang Aceh yang meminta upah ketika dimintai tolong, bahkan ketika hal itu untuk kepentingan mereka sendiri! (ada cerita dari bapak-bapak petugas pengukuran BPN, ketika mereka meminta masyarakat agar memasang patok pada batas tanah masing-masing, mereka menjawab: mana upah pasangnya, kami dulu setelah tsunami membersihkan rumah sendiri saja dibayar NGO 50.000 rupiah!)
tidak ada maksud saya mengungkapkan hal ini, selain karena rasa prihatin terhadap Aceh yang serambi Makkah ternyata jauh dari bayangan saya…
anggap saja ini sebagai sebuah nasihat dari sesama saudara muslim sebagaimana diperintahkan Alloh SWT. sebagai manusia, saya juga belum sempurna menjalankan syariat Islam, dan sangat mungkin penilaian saya di atas ada yang tidak pas… untuk itu saya mohon maaf.
semoga Aceh yang sekarang dipimpin gubernur Irwandi dapat melaksanakan amanat menegakkan syariat Islam dan mampu menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. amin.
agusmupla berkata
Subhanallah…ternyata gitu yah kang…?
Saya jg sih sempet dapat informasi seperti itu jg Kang…
dari temen yang pernah ke sana…
Mudah2-an peristiwa ini bisa jadi ibrah…buat kita
asep ramdlan berkata
memang tidak semua orang berperilaku seperti itu, hanya yang saya lihat sih cukup mayoritas sebagaimana yang saya ungkapkan. tapi saya yakin dalam waktu dekat akan segera berubah (berdasarkan pengamatan dan dialog dengan tokoh serta generasi mudanya di sana). insya Alloh.